Jumat, 07 Januari 2011

GASTROINTENSIAL I (Usus Halus, Usus Besar, Rectum dan Anus) MARINTAN, RIENY AND OKTAVIANI

Gastrointensial II
Usus Halus, Usus Besar, Rectum dan Anus
 ( Biomedik 11 )
Kelompok 6




Disusun Oleh :
Marintan Apriani ( 2010-21-009 )
Oktaviani Naulita ( 2010-21-010 )
Stephanie P. Rieny J. ( 2010-21-013 )

Program Studi  S1 ILMU GIZI
STIK Sint CAROLUS
JAKARTA
2010

Gastrointensial II
Usus Halus, Usus Besar, Rectum, dan Anus.

Usus Halus (intestinum minor)
Usus halus (intestinum minor) merupakan bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada sektum, panjangnya ± 6 meter, dan merupakan saluran pencernaan yang paling panjang. Bentuk dan susunanny berlipat-lipat melingkar. Makanan dapat masuk karena adanya gerakan yang memberikan permukaan yang lebih luas. Banyaknya jonjot-jonjot pada tempat absorpsi memperluas permukaannya . pada ujung dan pangkalnya terdapat katup. Intestinum minor terletak dalam rongga abdomen dan dikelilingi usus besar.
Lapisan usus halus
1.    Tunika mukosa : lapisan ini banyak memiliki lipatan yang berbentuk plika sirkulasi dan vili intestinal (jonjot-jonjot) yang selalu bergerak karena pengaruh hormon filli kinnin. Vili ini banyak mengandung pembuluh darah dan limfe, selain itu juga terjadi penyerapan lemak yang telah diemulsi.
2.    Tunika propia : pada bagian dalam tunika mukosa terdapat jaringan limfoid nodul limpatisi secara berkelompok. Tiap kelompok lebih kurang 20 nodulsi limpatisi. Kumpulan ini disebut plaque payeri, yang merupakan tanda khas dari ileum. Pada penyakit typhoid, plaque payeri ini sering meradang karena infasi kuman salmonella typhoosa.
3.    Tunika submokusa : pada lapisan ini terdapat anyaman pembuluh darah dan syaraf simpatis.
4.    Tunika muskularis : lapisan ini terdiri atas 2 lapisan otot sirkuler dan otot longitudinal, diantara keduanya terdapat anyaman serabut saraf fleksus mesenterikus Auerbachi.
5.    Tunika serosa (adventisia ) :lapisan ini meliputi  jejunum dan ileum.


Struktur usus halus terdiri dari bagian – bagian berikut ini :
1.    Duodenum : bentuknya melengkung seperti kuku kuda. Pada lengkungan ini terdapat pankreas. Pada bagian kanan duodenum terdapat  bagian yang membukit tempat bernuaranya saluran empedu (duktus koledokus) dan saluran penkreas (duktus pankreatikus), tempat ini dinamakan papilla vateri. Dinding duodenum mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar brunner untuk memproduksi getah intestinum.
2.    Jejunum : panjangnya 2 – 3 meter dan berkelok – kelok terletak disebelah kiri atas intestinum minor. Dengan perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas (mesenterium) memungkinkan keluar masuknya arteri dan vena mesentrika superior, pembuluh live, dan saraf keruang antara lapisan peritoneum. Penampung jejunum lebih lebar, sedangkan dindingnya lebih tebal dan banyak mengandung pembuluh darah.
3.    Ileum : ujung batas antara elium dan jejunum tidak jelas, panjangnya ± 4 – 5 m. Ileum merupakan usus halus yang terletek sebelah kanan bawah berhubungan dengan sekum dengan perantaraan lubang orifisium ileo sekalis yang diperkuat oleh sfingter dan ketup valvula ceicalis (valvula bauchini) yang berfungsi mencegah cairan dalam kolon agar tidak masuk lagi kedalam ileum.
Duodenum berfungsi mencerna secara kimiawi. Jejunum dan ileum berfungsi sebagai penyerap sari-sari makanan.
Sari-sari makanan yang teserap kemudian akan masuk ke dalam pembuluh darah. Sedangkan ampas atau sisa penyerapan akan dialirkan ke dalam usus besar.
Mukosa usus halus
Mukosa usus halus merupakan permukaan epitel yang sangat halus. Lipatan mukosa dan mikrofili memudahkan proses pencernaan dan absorpsi. Lipatan ini dibentuk oleh mukosa dan sub mukosa yang dapat memperbesar permukaan usus halus. Membran mukosa berupa lipatan sirkuler dan semisirkuler (spiral) yang seluruh permukaannya terdapat berjuta – juta vili yang ditutupi oleh selapis sel yang mengandung pembuluh darah yaitu pembuluh limfe dan saraf. Penampung melintang villi dilapisi oleh epitel dan kripta yang menghasilkan bermacam – macam hormon jaringan dan enzim yang memegang peranan penting dalam proses pencernaan.
            Pada mukosa usus halus terdapat sekresi kelenjar brunner dan kelenjar intestinal.
1.    Kelenjar brunner dalam duodenum : menghasilkan mukus dan larutan NaHCO3 dengan pH 7,5, tidak mengandung enzim, dan melindungi mukosa duodenum dari keaktifan asam lambung dan pepsin. Sekresi kelenjar ini diransang oleh nervus vagus.
2.    Kelenjar intestinal : menghasilkan sukus entrikus, enzim enteropeptidase, disakarida, peptidase, fosfatase alkalis, mokus, dan cairan isotonik dengan pH 7.
Absorpsi usus halus
Absorpsi makanan yang sudah dicerna berlangsung dalam usus halus melalui 2 saluran (kapiler darah dan kapiler limfe) disebelah dalam permukaan vili. Sebuah vili berisikan lakteal, pembuluh darah, epitelium, dan jaringan otot yang diikat bersama oleh jaringan limpoid dan seluruhnya diliputi oleh membran dasar epitelium. Oleh karena vili keluar dari dinding usus maka bersentuhan dengan makanan yang sudah cair dan lemak yang sudah diabsorpsi kedalam lakteal. Selanjutnya makanan berjalan melalui limfe masuk ke dalam pembuluh kapiler darah divili usus, lalu masuk ke vena porta dengan mengalami beberapa perubahan.
1.    Absorpsi karbohidrat : hasil akhir berupa glukosa, galaktosa, dan fruktosa. Absorpsi glukosa terjadi bersamaan dengan transport aktif ion Na seperti yang terjadi dalam tubulus progsima ginjal (tanpa tranport maksimum). Mekanisme ini juga digunakan oleh frugtosa dengan fasilited defusion , sedangkan proses absorpsi glukosa memerlukan insulin. Laju absorpsi glukosa ± 120 gram per jam.
2.    Absorsi protein : hasil akhir pencernaan protein berupa asam amino. Absorpsi asam amino secara aktif lebih cepat daripada menyerpan asam amino secara pasif. Sistem tranport ada 3 asam amino netral, asam amino biasa, dan asam amino protein. ketiga tranport ini dikaitkan dengan tranport natrium. Sistem tanport lain (dipeptida dan tripeptida) kesel mukosa sebelum dicerna dilakukan oleh enzim intrasel hingga menjadi asam amino.
asam amino terkumpul dalam sel mukosa dan kembali berdifusi kedalam darah. Absorpsi ini  berlangsung cepat di duodenum dan jejunum, tetapi berlangsung lambat di ileum sumber absorpsi dapat di absorpsi secara utuh melalui mukosa usus halus dengan proses pinositosis. Sumber protein dalam gastrointestinal adalah 50% dari makanan, 25% dari liur pencernaan, 25%  dari sel mukosa, dan hanya 2 – 2,5% yang tidak dicerna dan diabsorpsi oleh usus halus.
3.    Absorpsi lemak : hasil akhir pencernaan lemak adalah asam lemak, gliserol, dan monogliserida. Garam empedu membantu pencernaan dan absorpsi lemak bersama lesitin dan monogliserida mengemulsi lemak dengan partikel berdiameter 200 500 mm. Fasilitas pencernaan oleh lipase membentuk misel (garam empedu). Asam lemak dan kolesterol dari misel masuk dan berdifusi secara pasif ke dalam sel mukosa. Dari sel mukosa asam lemak  dan atom C kurang dari 10 – 12 langsung masuk ke dalam lalu diekstrak kembali menjadi trigliserida.
di dalam sel mukosa sebagian kolesterol diserap. Ester gliserida dan ester kolesterol dibungkus oleh lapisan lipoprotein kolesterol dan fosfolipid membentuk kilomikron tetesan lemak yang berukuran 0,5 mikron, kemudian kilomikron meninggalkan sel dan memasuki sistem limfatik . sekitar 60 – 90% lemak yang diserap dari usus halus di angkut ke dalam darah melalui duktus torasikus dalam bentuk kilomikron. Absorpsi kolesterol terjadi di usus halus bagian distal dan berlangsung apabila ada kelenjar empedu, asam lemak, dan pankreas.
4.    Absorpsi air dan elektroit : air dalam usus halus berasal dari zat makanan /minuman jumlahnya ± 2000 ml sehari dan air liur pencernaan 7000 ml sehari. 90% dari cairan ini diserap sehingga yang hilang bersama feses hanya 200 ml. Gerakan air dilambung sangat terbatas, sedangkan dalam usus halus dan usus besar dapat bergerak kedua arah mulai mukosa grasien osmotik.
5.    Absorpsi natrium dan kalium : bergantung pada gradien konsentrasi sejumlah kecil Na+ yang diangkut ke luar lumen usus halus dan usus besar oleh pompa yang terletak di dinding basilateral sel. Pada ileum dan jejunum, tranport Na+  dari usus halus ke darah ditingkatkan oleh aldosteron dan glukosa di ileum usus untuk meningkatkan absorpsi Na.
Keadaam ini merupakan dasar pengobatan kehilangan air dan Na+ pada diare dengan memberikan larutan yan g mengandung NaCl dan glukosa oral. Transport Na+  melalui epitel menimbulkan potensial listrik dan secara simultan akan menarik ion klorida melalui membran.
6.    Sejumlah kecil K+ disekresi lumen usus yang merupakan komponen mukus. Gerakan K+ melalui membran gastrointestinal dengan cara difusi pasif bergabung pada potensial darah antara darah dan lumen usus. Kehilangan K+ melalui membran pada diare kronis dapat mengakibatkan hipokalema.
7.    Absorpsi klorida dan bikarbonat: pada ileum dan usus besar  ion Cl (klorida) diabsorpsi aktif untuk menggantikan HCO3 dengan demikian isi intestinal menjadi lebih alkali.
8.    Absorpsi vitamin dan mineral: vitamin yang larut dalam air lebih cepat diabsorpsi dibandingkan yang larut dalam lemak.
Kalsium : akam diserap dengan cara transpor aktif 30 – 80% terutama diserap di usus halus bagian atas dengan cara transpor aktif tergantung pada kebutuhan tubuh.
Zat besi : pada orang dewasa, zat besi yang hilang dari tubuh relatif kecil. Zat besi diserap dalam bentuk ferro (Fe). Sebagian besar zat besi dalam sel makanan adalah dalam bentuk Fe3+. Sekret lambung  dapat mereduksi Fe3+ gastroktomi yang dapat menimbulkan anemia defisiensi besi. Penyerapan zat besi (Fe) secara aktif terjadi pada usus halus bagian atas.
Kontraksi usus halus
Dikoordinasakan oleh suatu gelombang depolarisasi usus halus yang bergerak dari otot polos sirkuler duodenum  ke arah kaudal. Frekuensi tertinggi 11 – 13 per menit. Jenis kontraksi usus halus dijelaskan dibawah ini.
1.    Segmentasi : jenis gerakan yang paling sering dan frekuensinya sesuai dengan slow wave (gerakan lambat). Kontraksi otot yang berdekatan pada jarak tertentu berkontraksi secara bergantian  mencampur kimus dengan liur pencernaan pada permukaan absorpsi mukosa.
2.    Peristaltik : kontraksi otot sirkuler secara berurutan untuk jarak pendek dengan kecepatan 2 – 3 cm/detik untuk mendorong kimus  kearah usus besar. Ragangan dinding usus halus dan gelombang peristaltik menimbulkan respons terhadap regangan tersebut.
3.    Kontraksi mulkularis mukosa : kontraksinya tidak teratur 3 kali per menit. Kontraksi ini merubah pola lekukan  dan lipatan mukosa,mencampur isi lumen,dan mendekatakan kimus dengan permukaan mukosa yang dirangsang oleh saraf simpatis.
4.    Kontraksi vilus : kontraksinya tidak teratur  terutama bagianproksimal usus.kontraksi ini membantu mengosongkan pembuluh lakteal sentral dan meningkatkan aliran limfe.
5.    Sfingter ileosekalis : sfingter ileosekalis melemas bila peristaltik ileum sampai di sfingter dan sejumlah kecil kimus masuk ke dalam sektum. Ragangan ileum menjadi relaksasi membentuk pengosongan ileum. Ragangan sektum untuk mengosongkan lebih lanjut terutama dikoordinasikan oleh neuron pleksus intrinsik.
6.    Refleks gatroileal : peningkatan fungsi sekresi dan motorik lambung meninggalkan motilitas ileum terminals, kimus masuk kedalam sekum melalui refleks panjang.

Usus besar (intestinum mayor)
Merupakan saluran pencernaan berupa usus berpenampang luas atau berdiameter besar dengan panjang 1,5 – 1,7 m dan penampang 5 -6 cm. Usus besar merupakan lanjutan dari usus halus yang tersusun seperti huruf U terbalik dan mengelilingi usus halus dari valvula ileosekalis sampai ke anus.
Proses didalam usus besar
Sisa hasil penyerapan usus halus akan masuk ke dalam usus besar. Di usus besar ini, sisa pencernaan akan diserap kembali kadar air dan garam-garam yang masih terkandungnya sehingga sisa-sisa pencernaan ini akan padat.
Di dalam usus besar, sisa-sisa hasil pencernaan akan mengalami pembusukan karena di dalam usus besar terdapat banyak bakteri pembusuk, yaitu E. colli. Usus besar adalah suatu organ yang sangat khusus yang bertanggung jawab untuk memproses limbah sehingga pengeluaran limbah menjadi mudah.
Feses, atau limbah yang tertinggal dari proses pencernaan, lewat melalui usus besar dengan bantuan dari peristalsis, pertama dalam suatu kondisi cair dan akhirnya dalam bentuk padat. Ketika feses lewat melalui usus besar, segala air yang tersisa diserap. Feses disimpan di usus besar sigmoid sampai usus besar mengosongkan isinya kedalam rektum, biasanya sekali atau dua kali sehari.
Feses sendiri kebanyakan adalah sisa-sisa/puing-puing makanan dan bakteri-bakteri. Bakteri-bakteri ini melakukan beberapa fungsi-fungsi yang bermanfaat, seperti mensintesis beragam vitamin-vitamin, memproses produk-produk limbah dan partikel-partikel makanan, dan melindungi terhadap bakteri-bakteri yang membahayakan.
Lapisan usus besar
1.    Lapisan selaput lendir (mukosa) : lapsan ini tidak memiliki vili, kripta-kripta yang terdapat didalam  ±0,5 mm terletak berdekatan satusama lain. Hampir seluruh permukaan epitel kripta menghasilakan mukus pelumas. Epitel yang tinggal lainnya mempunyai tepi bersilia dari mikrovili yang mengabsorpsi air.
2.    Lapisan otot melingkar (M.sirkuler) : lapisan ini berada disebelah dalam dan berbentuk lingkaran.
3.    Lapisan otot memanjang (M.longitudinal) : lapisan otot ini berkumpul menjadi 3 pita panjang dengan lebar 1 cm disebut teniacoli. Lapisan inin terdiri dari tenia libra (dianterior), tenia omentalis (diposterior dan lateral), dan tenia mesacolia (diposterior dan media).
4.    Lapisan jaringan ikat (serosa) : lapisan ini merupakan jaringan ikat kuat yang berada disebelah luar.
Senyawa yang dihasilkan oleh usus halus :
Senyawa Kimia
Fungsi
Hormon CCK (Kolesistokinin)
Merangsang hati intuk mengeluarkan cairan empedu ke dalam usus halus
Disakaridase
Menguraikan disakarida menjadi monosakarida
Erepsinogen
Membentuk erepsin dan mengubah pepton menjadi asam amino
Hormon Sekretin
Merangsang kelenjar pankreas untuk mengeuarkan senyawa kimia yang dihasilkan ke usus halus

Stuktur usus besar
1.    Sektum : kontong lebar yang terletak pada fossa iliaka dekstra. Pada bagian bawah sektum terdapat apendiks vermiformis disebut umbai cacing, panjangnya ±6 cm. Muara apendiksditentukan oleh titik Mc burney yaitu daerah antara 1/3 bagian kanan dan 1/3 bagian tengah garis penghubung kedua spina iliaka anterior superior (SIAS). Sektum seluruhnya ditutupi oleh peritoneum agar mudah bergerak dan dapat diraba melalui dinding abdomen membentuk sebuah katup dinamakan valvula koli (valvula bauchini). Titik Mc burney : merupakan tempat proyeksi muara ileum ke dalam sektum. Tidak potong tapi lateral dengan garis penghubung SIAS kanan dengan pusat. Pada waktu peradangan apendisitis, daerah ini sangat sakit saat ditekan. Kadang-kadang apendiks perlu dibuang dengan operasi apendiktomi untuk menghilangkan infeksi.
2.    Kolon asendens : bagian yang memanjang dari sektum ke fossa iliaka kanan sampai sebelah kanan abdomen. Panjangnya 13 cm terletak dibawah abdomen sebelah kanan dan dibawah hati ke sebelah kiri. Lengkungan ini disebut fleksura hepatika (fleksura koli dekstra) dilanjutkan dengan kolon trnsversum.
3.    Kolon transversum : panjangnya 38 cm membujur dari kolon asendens sampai ke kolon desenden. Berada dibawah abdomen sebelah kanan tepet pada lekukan disebut fleksura lienalis (fleksura koli sinstra),mempunyai mesenterium yang melekat pada omentum mayus.
4.    Kolon desenden : panjangnya  ±25 cm, terletak dibawah abdomen bagian kiri dari atas ke bawah. Dari depan fleksura lienalis sampai di depan ileun kiri, bersambung dengan sigmoid dan dinding belakang peritoneum (retroperitoneal).
5.    Kolon sigmoid : bagian ini merupakan lanjutan kolon desenden, terletek miring dalam rongga pelvis. Bagian ini panjangnya 40 cm dalam rongga pelvis sebelah kiri,berbentuk huruf S. Ujung bawahnya berhubungan dengan rektum. Kolon sigmoid ini ditunjang oleh mesenterium yang disebut mesokolon sigmoideum.
Gerakan kolon
1.    Gerakan mencampur : otot sirkuler kolon menganut sekitar 2,5 cm pada tiap kontraksi. Kadang-kadang dapat menyempitkan lumen dengan sempurna. Gabungn otot sirkuler dan longitudinal bagian usus besar tidak terangsang menggelembung ke luar dan merupakan kantong  yang disebut haustration. Dalam waktu 30 detik, kontraksi haustral akan bergerak dengan lambat ke arah anus. Beberapa menit kemudian timbul haustral kedua yang baru didekat tempat semula tetapi tidak pada tempat yang sama. Dengan cara ini feses perlahan-lahan didekatkan ke permukaan dan secara progresif akan terjadi penyerapan air.
2.    Gerakan mendorong: pada kolon terjadi gerakan yang disebut mass movement yaitu mendorong feses ke arah anus. Gerakan ini timbul beberapa kali sehari, biasanya setelah makan pagi. Pada mulanya, gerakan terjadi dibagian kolon yang terserang kemudian kolon distal tempat kontraksi panjangnya kira-kira 20 cm, berkontraksi serentak sebagai satu kesatuan mendorong feses ke bagian distel.
Fungsi Kolon adalah :
1.    Meyerap air selama proses pencernaan
2.    Tempat dihasilkannya vitamin K, Biotin sebagai hasil simbiosis dengan bakteri usus misalnya e.coli
3.    Membentuk massa feses
4.    Mendorong sisa makanan hasil pencernaan (feses) keluar dari tubuh

Mass movement : dapat terjadi pada setiap bagian kolon transversum dan desenden. Apabila sejumlah feses telah terdorong ke dalam rektum timbul keinginan untuk defekasi. mass movement  yang  sangat kuat akan mendorong feses melalui rektum dan anus untuk keluar. Hal ini terjadi karena kontraksi tonik yang terus-menerus pada sfingter ani internus dan ekternus.
Rektum
Rektum ini merupakan lanjutan dari kolon sigmoid yang menghubungkan intstinum mayor dengan anus, panjangnya 12 cm, dimulai dari pertengahan sektum sampai kanalis anus, rektum terletak dalam rongga pelvis didepan os sektum dan os koksigis.
Rektum terdiri atas dua bagian :
1.    Rektum propia : bagian yang melebar disebut ampula rekti, jika terisi sisa makanan akan timbul hasrat devekasi
2.    Rektum onalis rekti : sebelah bawah ditutupi oleh serat – serat otot polos (muskulus sfingter ani internus dan muskulus sfingter ani eksternus). Kedua otot ini berfungsi pada waktu devekasi tunika mukosa rektum banyak mengandung pembuluh darah, jaringan mukosa, dan jaringan otot yang membentuk lipatan disebut kolumna rektalis. Bagian bawah terdapat vena rektalis (hemoroidalis superior dan inverior) yang sering mengalami perebaran atau varises yang disebut wasir (ambien).
Fungsi rektum :
·         Menerima feces dari usus besar
·         Membiarkan seseorang mengetahui ada feces yang harus dikeluarkan
·         Menahan feces sampai pengeluaran terjadi
Proses di rektum :
Ketika gas atau feces datang kedalam rektum, sensor-sensor mengirim suatu pesan ke otak. Otak kemudian akan memutuskan apakah isi rektum dapat dilepaskan atau tidak. Jika dapat, sphincters akan mengendur dan kemudian rektum berkontraksi, mengeluarkan isi-isinya. Jika isi-isinya tidak dapat dikeluarkan, sphincters akan berkontraksi dan rektum menampung untuk sementara.
Anus
Anus merupakan bagian dari saluran pencernaan yang berhubungan dengan dunia luar terletak di dasar pelvis, dindingnya diperkuat oleh sfingter ani yang terdiri atas :
1.    Sfingter ani internus: terletak disebelah dalam bekerja tidak menurut kehendak,
2.    Sfingter levator ani :bagian tengah berkerja tidak menurut kehendak,
3.    Sfingter ani eksternus : sebelah luar berkerja menurut kehendak.
Proses di anus :
Anus adalah bagian paling akhir dari saluran pencernaan. Ia terdiri dari otot-otot yang melapisi pelvis (pelvic floor muscle) dan otot-otot lain yang disebut anal sfingter, baik internal maupun eksternal.
Pelvic floor muscle menciptakan suatu sudut antara rektum dan dubur yang menghentikan feses untuk keluar ketika ia tidak diharapkan keluar. Anal sfingter menyediakan kontrol feses yang baik. Internal sfingter selalu ketat, kecuali ketika feses masuk kedalam rektum. Ia mempertahankan kita agar tidak melepaskan feses ketika kita tidur atau jika kita tidak sadar akan kehadiran feses. Ketika kita mendapat suatu keinginan untuk membuang air besar, maka external sfingter akan bekerja untuk menahan feses sampai kita dapat pergi ke toilet.

Devekasi
Devekasi adalah hasil refleks. Apabila bahan feses masuk ke dalam rektum, dinding rektum akan meregang dan menimbulkan inplus aferens misalkan melalui pleksus mesenterikus sehingga menimbulkan gelombang peristaltik pada kolon desenden dan kolon sigmoid yang akan mendorong feses ke arah anus. Apabila gelombang peristaltik sampai ke anus, sfingter ani internus akan menghambat feses sementara dan sfingter ani eksternus melemah sehingga terjadi devekasi . refleks ini sangat lemah sehingga harus diperkuat refleks lain malelui sekmen sakral  medula spinalis dan dikembalikan kekolon desenden, kolon sigmoid, rektum, dan anus melalui saraf parasimpatis.
            Impuls parasimpatik memperkuat gelombang peristaltik dari gelombang lemah menjadikan proses devekasi. Orang normal dapat mencegah devekasi sampai waktu dan tempat yang sesuai dengan refleks devekasi. Devekasi hilang beberapa menit dan timbul kembali sampai beberapa jam. Pada bayi baru lahir,refleks devikasi berjalan secara otomatis dan mengosongkan usus besar bagian bawah.
PERITORIUM
Peritoneum adalah membran tipis, halus, lembab terdapat dalam rongga abdomen dan menutupi organ – organ abdomen. Peritoneum merupakan membran serosa yang terdiri atas lapisan yang terletak pada jaringan ikat. Peritoneal parietal berlanjut kebawahmembatasi pelvis dan peritoneum viseal yang meliputi organ – organ dalam peritoneum.
            Ruang potensial yang terdapat antara lapisan parietal dinamakan rongga peritoneal pada pria ruangan ini tertutup. Akan tetapi  pada wanita rongga ini memiliki hubungan dengan dunia luar (tubauterine, uterus, dan vagina).rongga ini mempunyai osteum kecil diujung yang bebas masuk kedalam kavitas peritoneal dan merupakan jalan masuk dari ovum peritoneal mempunyai dua kantung yaitu kantong besar yang terbentang di seluruh abdomen mulai dari diafragma sampai ke pelvis dan kantong kecil yang terletak dibelakang lambung.
Daerah khusus peritoneal :
1.    Mesenterium : merupakan lipatan peritoneum berlapis ganda yang melekat pada bagian usus ke dinding posteor abdomen, terdiri atas mesenterium usus halus, mesokolon, transversum, dan mesokolon sigmoid.
2.    Omentum :merupakan lapisan peritoneum berlapis ganda yang melekat pada lambung, omentum mayus, dan kurvatura mayor yang tergantung seperti tirai pada ruang lekukan usus dan dinding abdomen anterior. Omentum mayus melipat kembali dan melekat pada peti bawah kolon transversum, sedabgkan omentum minus menghubungkan kurvatura maayor, lambung, dan permukaan hati.
3.    Ligamentum pertitoneal : merupakan lipatan peritoneum berlapis ganda yang melekat pada dinding abdomen dan berhubungan dengan tulang dan hati sedangkan ligamentum valsivormis di dinding anterior abdomen dan permukaan bawah hati.
4.    Sakus minor : merupakan bagian rongga peritoneal yang terletak di sebelah belakang lambung.
5.    Kavitas peritoneum : merupakan rongga peritoneal yaitu suatu rongga yang terdesak oleh organ abdomen sehingga peritoneum parietalis dan viseralis dapat diraba.
Beberapa fungsi peritoneum adalah sebagai berikut :
1.    Tempat melekatnya organ – organ ke dinding abdomen posterior yang satu dengan yang lainya.
2.    Membentuk pembatas yang halus sehingga mempermudah untuk saling bergerak dan tidak saling bergesekan.
3.    Mempermudah pembuluh darah dan saraf untuk mencapai organ – organ tanpa harus dililit oleh lemak dan mengalami penekanan.
4.    Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah menutupi area yang terinfeksi dengan bantuan omentum mayor.
5.    Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ yang terdapat pada dinding posterior abdomen.







Daftar Pustaka
1.       Syaifuddin, 2009. Fisiologi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarat: Salamba Medika
2.       www.google.co.id diakses 20 November 2010 pukul 17.00 WIB
3.      Catherine Parker Anthony and Gary A. Thibodeau, Textbook of Anatomy & Physiology . St Louis: Mosby, 1983.




GASTROINTENSIAL I (Mulut, Kerongkongan, Lambung) MARINTAN, RIENY AND OKTAVIANI


Gastrointensial I
Mulut, Kerongkongan dan Lambung
( Biomedik 10 )
Kelompok 6




Disusun Oleh :
Marintan Apriani ( 2010-21-009 )
Oktaviani Naulita ( 2010-21-010 )
Stephanie P. Rieny J. ( 2010-21-013 )

Program Studi  S1 ILMU GIZI
STIK Sint Carolus
JAKARTA
2010
Gastrointensial I
Mulut, Kerongkongan dan Lambung

Saluran pencernaan makanan menerima makanan dari luar dan mempersiapkan bahan makanan untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan (menguyah, menelan, dan penyerapan) dengan bantuan zat cair yang terdapat mulai dari mulut sampai ke anus. Setiap sel dalam tubuh memerlukan suplai makanan yang terus-menerus untuk bertahan hidup. Makanan tersebut memberikan energi, menambah jaringan baru, mengganti jaringan yang rusak, dan untuk pertumbuhan.
Fungsi utama pencernaan adalah menyediakan zat nutrisi yang sudah dicerna secara berkesinambungan untuk didistribusikan ke dalam sel melalui sirkulasi dengan unsur-unsur air, elektrolit, dan zat gizi. Sebelum zat ini diserap oleh tubuh, makanan harus bergerak sepanjang saluran pencernaan
Makanan yang kita makan harus diubah terlebih dahulu menjadi benda cair agar dapat diserap (diabsorpsi). Zat makanan tersebut mengalami perubahan kimiawi dan fisik sepanjang saluran pencernaan. Zat makanan merupakan sumber energi dari sel yang membentuk adenosin trifosfat (ATP) untuk melaksanakan berbagai kegiatan dalam tubuh, untuk mempertahankan suhu tubuh, dan energi untuk bekerja dan bergerak
Pembuangan sisa makanan dari metabolisme akan diekskresikan melalui saluran akhir sistem pencernaan dalam bentuk feses. Selain itu juga melalui paru-paru dan ginjal dalam bentuk karbon dioksida dan urine



Proses Pencernaan
Peristiwa yang terjadi dalam sistem pencernaan meliputi pergerakan makan, sekresi getah cerna, penceranaan, dan absorpsi
1.      Pergerakan makan: mendorong isinya ke depan dengan kecepatan yang tidak sama mencampur makanan dengan liur, dan membantu observasi dengan cara mendekatkan seluruh isi lumen ke permukaan saluran pencernaan dengan bantuan kontraksi otot polos dinding saluran pencernaan
2.      Sekresi getah cerna: sekersi getah cerna ini dilakukan oleh kelenjar-kelenjar mulai dari mulut sampai ke ileum. Getah yang disekresikan antara lain: air, elektrolit, dan bahan-bahan tertentu seperti, enzim dan getah empedu (mukus)
3.      Pencernaan: proses pencernaan adalah proses pemecahan secara mekanik dan kimia. Moleku-molekul besar yang masuk saluran pencernaan diubah menjadi molekul yang lebih kecil sehingga dapat diserap oleh dinding saluran pencernaan
4.      Absorpsi: makanan yang telah mengalami perubahan dalam proses penyerapan hasil pencernaan dari lumen akan menembus lapisan epitel dan masuk ke dalam darah atau cairan limfe. Permukaan saluran pencernaan biasanya tidak rata/licin , tetapi berlekuk-lekuk sehingga menambah luas permukaan yang tersedia untuk absorpsi
Lapisan Dinding Saluran Penceraan
Secara umum dinding saluran pencernaan terdiri atas 4 lapian yang mempunyai fungsi yang berbeda-beda
1.      Tunika mukosa: merupakan mukosa lapisan dalam yang diliputi lapisan epitel, menyekresi mukus, dan melepaskan hormon kedalam darah membentuk kelenjar eksokrin untuk menyekresi asam,enzim,air,dan ion-ion kedalam lumen. Lapisan ini berfungsi melindungi saluran pencernaan terhadap gesekan makanan yang keras.
2.      Tunika submukosa: merupakan jaringan ikat kedua sebelah dalam yang dilalui pembuluh darah dan pembuluh limfe yang besar, cabangnya menembus lapisan mukosa. Pada bagian dalam submukosa terdapat jala-jala sel saraf (pleksus submukosa). Lapisan ini mempunyai dua lapisan yaitu lapisan otot longitudinal dan sirkuler (oblique).
3.      Tunika muskalaris: lapisan ini merupakan lapisan otot. Kontraksinya menimbulkan gaya mendorong untuk memindahkan isi saluran pencernaan. Lapisan ini membentuk sistem saraf enterik untuk membantu mengintegrasikan keaktifan motorik dan sekretorik sistem pencernaan.
4.      Tunika surosa: lapisan ini merupakan lapisan luar jaringan ikat yang mengelilingi saluran pencernaan. Lapisan yang sangat tipis disebut peritoneum (adventisia). Lapisan ini menyekresi cairan serosa untuk membasahi dan mencegah gesekan organ pencernaan dan alat dalam sekitarnya.
Organ Pencernaan Awal
§   Mulut
Mulut merupakan organ pertama dari saluran pencernaan yang letaknya meluas dari bibir sampai istmus fausium yaitu perbatasan mulut dengan faring
Mulut terdiri atas dua bagian yaitu :
1.      Vestibulum oris
Vestibulum oris terletak diantara bibir dan pipi bagian luar, gusi, dan gigi dibagian dalam, bagian atas dan bawah dibatasi lipatan membran mukosa bibir pipi dan gusi. Pipi membentuk lateral vestibulum yang disusun oleh muskulus buksinator dan dilapisi oleh membran mukosa. Sebelah luar muskulus buksinator ditutupi oleh fasia bukofaringealis yang berhadapan dengan gigi molar kedua dan bagian atas terdapat papila kecil tempat bermuaranya duktus glandula parotis.

2.      Kapitas oris propia
Bagian ini ada diantara arkus alviolaris, gusi, dan gigi yang memiliki atap yang dibentuk oleh palatum durum (palatum keras) pada bagian depan dan palatum molle (palatum lunak) pada bagian belakang. Sebagian besar dasar mulut dibentuk oleh anterior lidah dan lipatan membran mukosa. Pada garis tengah lipatan balik membran mukosa, sisi lidah pada gusi terdapat diatas mandibula. Pada garis tengah lipatan  membran mukosa terdapat frenolum lingua yang mrnghubungkan permukaan bawah lidah dengan dasar mulut. Dikiri dan dikanan prenolum lingua terdapat papila kecil yang bagian puncaknya bermuara pada duktus glandula submandibularis.
Organ Kelengkapan Mulut
1.      Bibir : Bagian eksternal ditutupi oleh kulit sedangkan bagian internal oleh jaringan epitel yang mengandung mukosa. Bagian ini memiliki banyak pembuluh darah dan ujung-ujung saraf sensorik. Pada kavum oris terdapat dua buah palatum (tulang langit) yaitu palatum durum dan palatum molle.
a.      Palatum durum (palatum  keras) : Tersusun dari tulang keras, dibentuk oleh prosesus palatinus dari os palatum, berbentuk lengkung dilapisi oleh selaput mukosa dan periosteum, bagian belakangnya terdapat banyak kelenjar palatina.
b.      Palatum molle (palatum lunak) : Bagian depan bersatu dengan palatum durum, sedangkan bagian belakang membentuk istmus fausium berhubungan dengan faring yang terdiri atas jaringan fibrosa dan jaringan mukosa. Pada ujungnya terdapat anak lidah (uvula). Pada tiap sisi uvula terdapat dua lipatan yaitu arkus palatoglosus dan arkus palatofaringeus.
2.      Pipi : Merupakan kelengakapan mulut bagian luar yang dilapisi oleh kulit. Bagian dalam oleh jaringan epitel yang mengandung selaput lendir (membran mukosa). Otot pengunyah memanjang dari maksila ke mandibula dan sifatnya lebih elastis. Muskulus buksinator membentuk  basis otot pipi sebelah luar. Pipi memiliki fasia bukofaringeal dengan jaringan lemak korpus adiposa.
3.      Gigi : Merupakan alat bantu yang berfungsi untuk mengunyah dan bebicara
Terdiri dari dua yaitu :
-          Gigi sulung
-          Gigi permanen
a.      Gigi sulung (gigi susu) : Tumbuh sejak umur 6 – 8 bulan dan lengkap umur 2.5 tahun
Terdiri atas:
·         Gigi seri / dens insisivus : Bentuknya seperti pahat, gunanya untuk memotong;
·         Taring / dens kaninus : Bentuknya panjang dan kuat, gunanya untuk memotong;
·         Geraham / dens molare : Untuk menggiling dan menghancurkan makanan.
b.      Gigi permanen (gigi tetap) : Tumbuh pada umur 6 – 18 tahun, berjumblah 32 buah. Susunannya sama dengan gigi susu ditambah dengan geraham premolar sebanyak 12 buah. Gigi permanen merupakan penyempurnaan dari gigi susu.
Gigi  dan geraham terletak dalam alveolus dentis dari tulang maksila dan mandibula. Gigi mempunyai satu akar sedangkan geraham mempunyai 2 -3 akar.
Gigi dibedakan menjadi 4 macam yaitu gigi seri, gigi taring, gigi geraham depan, dan gigi geraham belakang.
# Gigi seri adalah gigi yang berbentuk seperti pahat, berfungsi untuk memotong dan menggi-git makanan.
# Gigi taring adalah gigi yang berbentuk seperti pahat runcing, berfungsi untuk mengoyak makanan.
# Gigi geraham (depan dan belakang) adalah gigi bentuknya agak silindris, berfungsi untuk mengunyah makanan.

Bagian-bagian gigi secara umum dibedakan menjadi 3, yaitu mahkota gigi (korona), leher gigi (kolum), dan akar gigi (radiks).
# Mahkota gigi adalah bagian gigi yang tampak dari luar.
# Leher gigi adalah bagian gigi yang dilindungi gusi.
# Akar gigi adalah bagian gigi yang tertanam di dalam rahang.

Susunan gigi pada manusia berbeda-beda sesuai dengan usia.
# Susunan gigi anak-anak (+- 6 tahun): 2   1 2  2 1   2 : rahang atas
                                                          g   t  s  s  t   g
                                                          2   1 2  2 1   2 : rahang bawah
            Keterangan: g=geraham, s=seri, t=taring
# Susunan gigi orang dewasa: 3   2   1   2   2   1   2   3 : rahang atas
                                             gb gd   t   s   s    t  gd  gb
                                             3   2   1   2   2   1   2   3 : rahang bawah
            Keterangan: gb=geraham belakang, gd= geraham depan, t=taring, s= seri

4.      Lidah: terdapat dalam kavum oris. Lidah terdiri atas susunan otot serat lintang yang kasar dilengkapi dengan mukosa lidah yang berperan dalam proses mekanisme pencernaan dimulut dengan menggerakan kesegala arah.
Bagian – bagian lidah :
a.      Pangkal lidah (radiks lingua): pada pangkal lidah terdapat anak lidah atau epiglotis yang berfungsi menutup jalan pernapasan pada waktu menelan, supaya makanan tidak masu kejalan pernapasan.
b.      Badan lidah (dorsum lingua): pada bagian ini terdapat puting –puting pengecap untuk menentukan rasa makanan (asam,manis,pahit, dan asin).
c.       Ujung lidah (apeks lingua): membantu membalikan makanan, proses berbicara, merasakan makanan, dan membantu proses menelan.
Papila pada permukaan lidah terdiri atas:
a.      Papila filiformis: tersebar diseluruh permuaan lidah
b.      Papila fungiformis: terdapat pada tepi  lidah bagian apeks
c.       Papila sirkumvalate: terdapat didepan sulkus terminalis lidah
d.      Papila foliatea: terdapat ditepi samping posterior lidah

5.      Kelenjar ludah (saliva): kelenjar yang menyekresi larutan mokus kedalam mulut bertujuan membasahi dan melumasi partikel makanan sebelum ditelan. Kelenjar ini mengandung lipase lingua untuk memcerna lemak ptyalin/amylase untuk mencerna tepung.
Bagian – bagian dari kelenjar ludah:
a.      Kelenjar ludah bawah rahang (kelenjar submaksilaris) : Kelenjar ini terdapat dibawah rahang atas bagian tengah, salurannya bernama duktus wartoni  yang bermuara pada rongga mulut dekat frenolum lingua
Kelenjar ludah bawah lidah (sublingua): terdapat dibawah selaput lendir dasar rongga mulut, bermuara di dasar rongga mulut dan dipersarafi oleh saraf otonom
b.      Kelenjar parotis : Terletak dibawah bagian depan telinga diantara prosesus mastoid kiri dan kanan dekat os mandibularis. Salurannya bernama duktus stensoni, keluar dari glandula parotis melalui pipi (muskulas buksinator). Sekresi saliva normalnya setiap hari sebesar 1000 – 1500 ml.
Kelenjar ludah menghasilkan ludah setiap harinya 1-2,5 liter ludah. Kandungan ludah pada manusia adalah air, mucus, enzim amilase, zat antibakteri, dll. Fungsi ludah adalah melumasi rongga mulut serta mencerna karbohidrat menjadi disakarida.






§   Esofagus
Esofagus (kerongkongan merupakan saluran pencernaan setelah mulut dan faring, panjangnya kira – kira 25 cm dengan posisi mulai dari tengah leher sampai ujung bawah rongga dada dibelakang trakea. Fungsi  esofagus adalah menyalurkan makanan ke lambung. Agar makanan dapat berjakan sepanjang esofagus, terdapat gerakan peristaltik sehingga makanan dapat berjalan menuju lambung.
Sekresi  esofagus bersifat mukoid  yaitu memberi pelumas untuk pergerakan makanan melalui esofagus. Pada permulaan esofagus terdapat kelenjar mukosa komposita. Bagian badan utamanya dibatasi oleh banyak kelenjar mukosa simplek yang berfungsi untuk mencegah sekresi mukosa oleh makanan yang baru masuk. Kelenjar komposit a yang terletak pada perbatasan esofagus dengan lambung berfungsi untuk melindungi esofagus dari pencernaan getah lambung. Pada peralihan esofagus kelambung terdapat sfingter kardiak yang dibentuk oleh lapisan otot sirkuler esofagus. Sfingter terbuka secara refleks pada akhir proses menelan. Tunika mukosa esofagus mempunyai epitel gepeng berlapis yang mengandung kelenjar – kelenjar (landula esofagus) lapisan dinding esofagus dari dalam keluar :
1.      Lapisan selaput (mukosa)
2.      Lapisan submukosa
3.      Lapisan otot melingkar (muskular sirkuler)
4.      Lapisan otot memanjang (muskular longitudinal)

Fungsi Sfingter  Esofagus
Pada bagian bawah 2,5 cm diatas lambung terdapat otot sirkuler esofagus  yang berfungsi sebagai sfingter esofagus bawah yang secara otomatis menutup apabila gelombang menelan berjalan menuruni esofagus. Relaksasi reseptif merupakan isyarat rangsangan dari nervus mesenterikus untuk merelaksasi sfingter esofagus, sebelum gelombang peristaltik dilakukan agar makanan yang ditelan mudah masuk lambung. Fungsi utama sfingter esofagus bawah adalah mencegah isi lambung naik lagi kedalam esofagus. Isi lambung sangat asam dan banyak mengandung enzim proteolitik. Esofagus tidak mampu menahan kerja pencernaan lambung pada waktu lama.
§   Lambung (ventrikulus)
                        Sebuah kantong muskular yang letaknya antara esofagus dan usus halus, sebelah kiri abdomen, dibawah diafragma bagian depan pankreas dan limfa. Lambung merupakan saluran yang dapat mengembang karena adanya gerakan peristaltik, terutama didaerah epigaster. Variasi dari bentuk lambung sesuai dengan jumlah makanan yang masuk, adanya gelombang peristaltik tekanan organ lain, dan poster tubuh.
Dinding lambung disusun oleh otot-otot polos yang berfungsi menggerus makanan secara mekanik melalui kontraksi otot-otot tersebut. Ada 3 jenis otot polos yabf menyusun lambung yaitu otot memanjang, otot melingkar dan otot menyerong. Selain pencernaan mekanik, pada lambung terjadi pencernaan kimia yang dihasilkan oleh lambung. Senyawa kimiawi yang dihasilkan oleh lambung adalah :
·         Asam HCl : Mengaktifkan pepsinogen jumenjadi pepsin. Sebagai disinfektan, serta merangsang pengeluaran hormon sekretin dan kolesistokinin pada usus halus
·         Lipase : Memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Namun lipase yang dihasilkan sangat sedikit.
·         Renin : Mengendapkan protein pada susu (kasein) dan air susu (ASI). Hanya dimiliki oleh bayi.
·         Mukus : Melindungi dinding lambung dari kerusakan akibat HCl.
Hasil penggerusan makanan di lambung secara mekanik dan kimiawi akan menjadikan makanan menjadi bubur yang disebut bubur kim.
Struktur Lambung
1.      Fundus ventrikuli : Bagian ini menonjol keatas, terletak disebelah kiri jantung, biasanya berisi gas. Pada perbatasan dengan esofagus terdapat katup sfingter kardiak.
2.      Korpus ventrikuli : Bagian ini merupakan segitiga osteum kardiakum. Suatu lekukan padat pada bawah kurvatura minor merupakan bagian utama dari lambung
3.      Antrum pilorus : Bagian ini merupakan bagian lambung yang berbentuk tabung dan mempunyai otot yang tebal membentuk sfingter pilorus. Antrum pilorus merupakan muara bagian distal dan berlanjut ke duodenum
4.      Kurvatura minor : Ada disebelah kanan lambung terbentang dari osteum kardiak sampai ke pilorus. Kulvatura minor dihubungkan ke hati oleh osteum minor, suatu lipatan ganda dari peritoneum
5.      Kurvatura mayor : Bagian ini terbentang pada sisi kiri osteum kardiakum melalui fundus ventrikuli menuju ke kanan sampai ke pilorus inferior. Kurvatura mayor lebih panjang dari kulvatura minor dan dihubungkan dengan kolon transversum oleh omentum mayor, lipatan ganda dari peritoneum
6.      Osteum kardiakum : Osteum ini merupakan tempat esofagus bagian abdomen masuk ke lambung. Pada bagian ini terdapat orifisium pilorus  yang tidak mempunyai sfingter khusus, tetapi hanya berbentuk cincin yang membuka dan menutup osteum dengan cara kontraksi dan relaksasi. Osteum dapat tertutup oleh lipatan membran mukosa dan serat otot pada dasar esofagus.



Lapisan Lambung
1.      Lapisan selaput lendir( mukosa)
Bila lambung dikosongkan lapisan ini berlipat – lipat yang disebut rugae
2.      Lipatan otot melingkar (muskular aurikularis)
Lapisan ini merupakan jaringan otot yang kuat
3.      Lapisan otot miring (muskulus oblingue)
Mempunyai otot bergaris miring
4.      Lapisan otot memanjang (muskulus longitudinal)
Lapisan ini merupakan susunan lapisan otot lambung yang panjang
5.      Jaringan ikat (peritoneum/serosa)
Jaringan ini melapisi lambung bagian luar
Sekresi Getah Lambung
Sekresi getah lambung adalah melihat, mencium, dan merasakan makan maka sekresi lambung akan teransang karena pengaruh saraf sehingga menimbulkan ransangan kimiawi yang menyebabkan dinding lambung melepaskan hormon
Sekresi getah lambung mengalami 3 fase:
1.      Fase serebral : Rangsangan dari makanan menyebabkan stimulus merambat dari otak ke nervus vagus yang merupakan kelenjar yang terstimulasi untuk menyekresi hormon gastrin yang disekresi oleh membran mukosa dan kanalis pilorus lambung
2.      Fase gastrik :  Pada fase ini gastrin lebih banyak diproduksi.
3.      Fase intestinal : Masuknya darah kedalam intestinum menyebabkan sekresi getah lambung membentuk lebih banyak gastrin
Gerakan Lambung
Apabila makanan ditelan, otot polos difundus dan korpus lambung secara refleks akan melemah sebelum makanan sampai dilambung sehingga volume getah lambung meningkat 1,5 liter tanpa peningkatan nyata.
            Reseptif relaksasi berlangsung dengan perantaraan nervus vagus dan dikooordinasikan oleh pusat menelan. Setelah lambung terisi penuh maka kontraksi mulai melemah didaerah fundus dan korpus sehingga menekan isi lambung. Kontraksi ini untuk beberapa waktu tidak menimbulkan pencampuran isi lambung dengan getah lambung. Kontraksi akan meningkatkan tonus lambung sampai menyebar kedaerah korpus dan hanya dapat dilewati oleh partikel berukuran kecil (1 mm). Keaktifan diantrum akan mancampur dan mengaduk isi lambung dengan cepat dan cermat dengan sekresi lambung, membelah makanan menjadi partikel yang lebih kecil, dan mencurahkan isi lambung yang sudah dalam bentuk setengah cair (khimus), perlahan masuk ke doudenum karena pompaan antrum pilorus.
Pengosongan Lambung
Sfingter pilorus mengendalikan pengosongan lambung walaupun pilorus tetap terbuka. Kontraksi antrum akan diikuti oleh kontraksi pilorus dan doudenum. Apabila suatu gelombang peristaltik terjadi sangat kuat sampai di antrum maka tekanan isi antrum akan naik dan diikuti oleh kontraksi pilorus lalu mendorong isi antrum yang masih padat ke korpus lambung. Sejumlah kecil isi antrum akan masuk ke duodenum setiap kontraksi. Pengosongan lambung membutuhkan waktu 5 jam dan dapat lebih lama apabila makanan banyak mengandung lemak. Fungsi pilorus pada pengendalian lambung terbatas karena pengosongan berjalan normal walaupun pilorus tetap terbuka. Kontraksi antrum akan diikuti oleh kontraksi pilorus yang berlangsung lebih lama dari konntraksi duodenum.
Pengaturan gerakan dalam pengosongan lambung merupakan kontraksi peritaltik lambung yang dikoordinasikan oleh gelombang depolarisasi gastrik (slow wave). Sel otot polos yang dimulai dari otot sirkulasi pundus menuju pilorus setiap 20 detik, ritme ini disebut Basic Electric Rhytme (BER). Peristaltik antrum slow wave mempunyai peran penting dalam pengendalian pengosongan lambung.
Kecepatan  Pengosongan Lambung
Tergantung pada jenis makanan yang terdapat dalam lambung. Karbohidrat lebih cepat meninggalkan lambung, sedangkan lemak lebih lambat. Keadaan di duodenum dipengaruhi oleh volume peregangan dinding lambung, keasaman lambung hasil pencernaan protein, dan hasil sekresi lemak. Kuatnya keaktifan lambung yang kosong dapat dirasakan dan dapat menimbulkan rasa nyeri secara samar – samar karena disertai rasa lapar.
Pengaturan Sekresi Lambung
Mekanisme saraf : refleks pendek atau lokal dan refeks panjang nervus vagus melibatkan neuron kolinergik yang meransang sekresi HCL, pepsin, dan mukus.
Mekanisme hormonal : hormon gastrin merangsang HCL, pepsin, dan pertumbuhan mukosa lambung. Perangsangan nervus vagus menimbulkan sekresi gastrin dengan perantaraan gastrin releasing peptida.
















Daftar Pustaka
1.       Syaifuddin, 2009. Fisiologi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
2.       www.google.co.id diakses tanggal 08 November 2010 pukul 17.00 WIB
3.       www.free.vlsm.org diases tanggal 08 November  2010 pukul 17.00 WIB